Posts

PEMANTIK

Image
Kamis, 1/1/2015. Hari pertama di tahun ini masih penuh imajinasi lantaran anggur impor di malam pergantian tahun.Tak ada kopi pagi. Bantal masih dalam pelukanku hingga menjelang makan siang.Saat aku bangun kulihat tanaman di depan kamarku sudah lebih hijau, segar, danbersih. Bunyi petasan dan trompet sudah tak terdengar. Kulihat tanda perubahan.Dalam hatiku berkata, sungguh tahun baru untuk hidup baru. Aku melamun jauh dengan kepala sedikit merunduk di kursi depan kamar.Perasaanku didominasi oleh sepi yang datang dari langit. Sepi itu turun bersama kabut dan asap dari mercun dan kembang api malam pergantian tahun. Pagi ini awan kelabu berganti jadi rintikan hujan. Titik-titik airnya menghampiri tanah jadi basah dan mendekap rerumputan dan bunga mandi dari debuh. Aku layu dengan mellow mood rintikan hujan. Inilah saat ketika sepi menjadi penyakit. Aku letih melihat pakaianku yang berhamburan. Sebagian pakaiannku di atas tempat tidur, yang lain tergantung, yang lain tergeletak

WANITA DAN BUS MALAM

Image
Lelaki tua itu masuk ke dalam bus dan aku melihat laki itu tak lagi seperti lelaki yang kulihat sebelumnya. Lelaki tua itu berubah. Ia tampak seperti seorang yang menang. Memenangkan hati beberapa orang wanita, terutama wanita yang mengucapkan selamat jalan kepadanya. Kemenangannya itu terpancar dari senyum dan tawanya. Ia membuang puntung rokoknya lalu masuk dan duduk di sebelahku. Dengan mata dan senyumnya yang lebih bersahabat ia sungguh telah berubah. 

Saluran Sibuk

Image
Seminggu berlalu. Lelaki itu tetap menekan nomor telepon, ketika ia tiba di meja kerja saat ia tiba dan hendak meninggalkan kantor.“Jika dia memang untukku biarlah panggilan ini masuk. Tak akan banyak kata yang kuucapkan. Tolonglah Tuhan.” *** Hari ini Lelaki itu telah menelpon Mey untuk kesekian kalinya. Panggilan terakhir lima menit yang lalu dan jawban dari ujung telepon tetap sama. Ia akhirnya hafal kalimat dari ujung telepon bahkan suara itu menjadi tak asing baginya. Suara itu mirip suara yang selalu ia tunggu-tunggu. Suara itu membuat ia merasakan jarak mereka sungguh jauh karena mereka  tetap tak pernah bisa bertanya jawab. Sepeluh menit berlalu dari panggilan terakhir, lelaki itu pasrah. “Tuhan biarlah, saya hanya mau katakan bahwa saya memikirkan dia. Katakan padanya untuk mencariku saat ia memikirkanku.” *** Semingu sudah panggilan rutin ini tak berhasil. “Tuhan, semua orang sibuk. Urusan kerja adalah kesibukan yang membuat orang lupa. Kesibukan lain adalah ursan

BUS MALAM DAN LELAKI TUA

Image
AKU PERGI, sebagian sepi mengiring dan sebagian lain tinggal menyepi. Senja di jalanan tempat tinggalku sepi. Sepi yang asing, tak biasa. Sepi dari bunyi klakson, sepi dari langkah yang melewati jalan yang mulai remang. Dalam rencana perjalanan, hari ini aku pergi. Mungkin akan tertunda jika sepi tak berubah. Ayah dan ibu menyiapkan barang bawaanku. Aku masih memandangi sepi yang juga diam di dinding kamar mandi. Makan malamku juga sepi, hanya aku, meja, kursi, dan seperangkat alat makan. Untung sepi ini singkat. Semuanya tampak terburu-buru. Pergi dan sepi pun terburu-buru. Hawa malam menyatu dengan bau kabut dan bumi gelap ketiadaan cahaya. Aku bingung dan termenung. Jalan yang sepi berubah riuh saat bus malam menyusur lambat dan berhenti tepat di hadapanku. Aku melambaikan tangan kemudian ucapkan selamat tinggal pada wajah dan juga sepi. Perjalanan ini tanpa kata, semua penumpang menikmati sepi. seakan memahami suasana hatiku. Aku rasakan ada sedih di hatiku. Tinggalkan keluarga

Biarkan Saya Menangis Lagi

Image
RUANGAN kecil itu, tempat orang mengadu apa yang tak bisa mereka suarakan di lorong kecil atau jadi gosip saat makan tiba. Hampir semua orang yang masuk ke dalam ruangan itu keluar dengan mata memerah dan bekas air mata di pipi mereka. Inilah Sabtu pertama, pertemuan pertama, tapi tangisan itu bukanlah yang pertama. Mungkin akan   ada Sabtu lagi dengan iringan tangis yang lain. Jangan bosan melihat mereka menangis. ***

DENDAM

Image
Pada suatu hari, George W. Bush dan Shaddam Husein bertemu di Swiss. Saddam berkata, “semalam saya bermimpi berkunjung ke negeri Anda. Di setiap pintu rumah penduduk Anda saya melihat tulisan, “Kami Cinta Saddam Husein”.             Bush balas menyindir, “ Tadi malam saya juga bermimpi. Saya bermimpi berkunung ke Irak. Saya mengunjungi semua kota di sana, termasuk Baghdad. Jalanan kota sungguh indah dan bersih. Bayak sekali gedung pencakar langit. Semua orang berpakaian rapid an kelihtan makmur. Anak-anak tanpak sehat. Toko-toko memajang barang mewah. Oww ya, saya juga melihat tulisan di setiap pintu ruamh, toko, dan gedung pencakar langit.“

Miracle in Cell No. 7

Image
        My English teacher gave me a DVD. The title of the movie was Miracle in Cell No. 7. At the first time I attracted by the cover. There was a little girl set inside the cartoon box. It was written there “Kids off limits” and “deliver me to my father”. The story in Miracle in Cell No. 7 was a family movie. The story in “ Miracle in Cell No. 7” was simple, but I realized the power of this movie. The characters of the actors, especially Yong-gu and Ye-seung brought my self of being a part of them. The flash back plot gave me an insight about the feeling of loosing my power. In the mind of being a father with mental problems, I thought that I got angry at the time. It made this movie sentimental and touch.